Pakar ekowisata, IPB, Ricky Avenzora, mengatakan, semua elemen sektor pariwisata harus bisa menemukan langkah strategis dan taktis melakukan kontra informasi dan promosi atas citra buruk yang ditimbulkan oleh isu COWBOYS IN PARADISE. Ia mengemukakan hal itu kepada ANTARA di Bogor, Kamis (29/04/10), terkait kontroversi mengenai film COWBOYS IN PARADISE, yang menceritakan tentang lelaki pemuas nafsu seksual atau gigolo di Pantai Kuta, Bali, dan kemudian menuai protes masyarakat karena menodai citra pariwisata Pulau Dewata itu. "Di samping harus mau secara jujur mengakui keberadaan penyakit sosial tersebut, maka di sisi lain semua elemen sektor pariwisata Indonesia juga harus menemukan langkah strategis dan taktis untuk melakukan suatu kontra informasi dan promosi atas image buruk yang ditimbulkan oleh isu film itu," kata pengajar pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB itu. Menurut dia, isu gigolo di Pantai Kuta yang mencuat melalui indie film COWBOYS IN PARADISE bukan hanya merupakan 'tamparan' yang menyakitkan bagi industri pariwisata Bali, melainkan juga merupakan 'hantaman' yang memalukan bagi segenap elemen bangsa. Meskipun penggunaan terminologi gigolo bisa dianggap terlalu vulgar bagi dinamika yang sedang dicuatkan tersebut, kata dia, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata dunia pariwisata Indonesia memang belum bisa membangun wajah kepariwisataan yang sesuai dengan dasar negara, Pancasila. Ia mengatakan, sebagai suatu negara yang mempunyai dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, dan juga mempunyai dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, maka perilaku seks bebas yang secara global adalah memang umum terjadi dalam industri pariwisata --yang dikenal dengan istilah 3S, yaitu sun, sea dan sex-- mestinya tidak terjadi di Indonesia. Dikemukakannya bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa sektor pariwisata adalah memang salah satu sektor pembangunan yang paling potensial untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan devisa negara. "Efek ekonomi berganda dari sektor pariwisata telah terbukti bisa menggerakkan perekononomian suatu wilayah secara spektakuler, namun demikian kiranya perlu juga disadari berbagai dampak negatif yang bisa ditimbulkannya," kata doktor lulusan Universitas George August Gottingen Jerman itu. Bersifat transnasional Ia mengatakan, di antara berbagai dampak negatif industri pariwisata yang ada, maka narkoba dan sexual related crime and disease kiranya adalah merupakan dampak negatif yang sangat krusial dan bersifat transnasional. Jika Anda tidak memiliki rincian yang akurat mengenai berita terbaru, maka Anda mungkin bisa membuat pilihan yang buruk pada subjek. Jangan biarkan hal itu terjadi: terus membaca.
Jika selama ini pemberantasan atas narkoba telah dilakukan dengan sangat progresif dan proaktif, katanya, maka kiranya inilah saatnya berbagai dampak negatif yang masuk dalam kelompok sexual related crime and disease juga perlu diberantas secara serius. Menurut dia, ketika banyak negara maju sejak awal tahun 2000 telah menjadikan motivasi born to be free sebagai suatu hal yang tabu bagi dunia kepariwisataan mereka, mengapa pula Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa harus tertinggal kereta untuk menunjukkan martabat bangsa dalam industri pariwisata. Terlepas dari pro dan kontra atas vulgarnya terminologi gigolo yang dicuatkan, kata dia, semua elemen kepariwisataan di Bali dan di Indonesia umumnya harus mau membuka mata dan jujur mengakui bahwa sexual related crime memang telah terjadi di Indonesia sejak lama. Disampaikannya bahwa perlu disadari bahwa sexual related crime dalam industri pariwisata di Indonesia bukan hanya terjadi di Bali, tapi terjadi di semua wilayah tujuan wisata yang ada di Indonesia. Jika saat ini di Bali sedang disorot perilaku para beach-boy yang berkeliaran di pantai-pantai Bali, maka mesti perlu juga dicoba untuk diamati dengan baik perilaku para pemuda-pemuda lokal ataupun para pemandu amatir yang ada di berbagai tourism focal point yang tersebar di seluruh wiilayah Indonesia. Dalam kaitan city-tourism, kata dia, malah sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak kota yang memberi ruang usaha yang 'sangat lebar' untuk berbagai fasilitas hiburan, mulai dari amusement center, cafe, disko dan pub, panti pijat dan spa. "Meskipun dalam izin yang diberikan sangat tegas melarang menyelenggarakan kegaitan prostitusi, tetapi kenyataan yang ada berbagai fasilitas hiburan itu selalu berasosiasi dengan 'kegiatan remang-remang', yang minimal salah satunya adalah berupa terciptanya atsmosfir perilaku seks bebas ataupun penyimpangan sexual lainnya," katanya. Sedangkan dalam konteks rural-tourism yang tersebar di berbagai pelosok negeri, di tepi hutan dan pedesaan pun, akan sangat mudah diamati adanya "penyakit sosial" yang berkaitan dengan sex bebas antara pemuda lokal dengan para turis mancanegara. "Lebih ekstrim, di salah satu tujuan wisata di daerah yang menerapkan aturan keagamaan yang sangat ketat pun saat ini akan mudah diamati bahwa wilayah tersebut telah menjadi salah satu surga baru bagi para kaum homo seksual," katanya. Kondisi tersebut, kata dia, sama bahayanya dengan semakin marak dan berkembangnya perilaku lesbian di antara wanita remaja dan dewasa saat ini di berbagai kota besar dan berbagai tujuan wisata. Meskipun modus operandi yang umum terjadi pada berbagai tourism focal point tersebut tidaklah an sich seperti modus operandi gigolo, tapi perilaku seksual di berbagai tujuan wisata perlu menjadi perhatian bersama untuk segera dibenahi, demikian Ricky Avenzora. [initial] (ant/rit)
Jika selama ini pemberantasan atas narkoba telah dilakukan dengan sangat progresif dan proaktif, katanya, maka kiranya inilah saatnya berbagai dampak negatif yang masuk dalam kelompok sexual related crime and disease juga perlu diberantas secara serius. Menurut dia, ketika banyak negara maju sejak awal tahun 2000 telah menjadikan motivasi born to be free sebagai suatu hal yang tabu bagi dunia kepariwisataan mereka, mengapa pula Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa harus tertinggal kereta untuk menunjukkan martabat bangsa dalam industri pariwisata. Terlepas dari pro dan kontra atas vulgarnya terminologi gigolo yang dicuatkan, kata dia, semua elemen kepariwisataan di Bali dan di Indonesia umumnya harus mau membuka mata dan jujur mengakui bahwa sexual related crime memang telah terjadi di Indonesia sejak lama. Disampaikannya bahwa perlu disadari bahwa sexual related crime dalam industri pariwisata di Indonesia bukan hanya terjadi di Bali, tapi terjadi di semua wilayah tujuan wisata yang ada di Indonesia. Jika saat ini di Bali sedang disorot perilaku para beach-boy yang berkeliaran di pantai-pantai Bali, maka mesti perlu juga dicoba untuk diamati dengan baik perilaku para pemuda-pemuda lokal ataupun para pemandu amatir yang ada di berbagai tourism focal point yang tersebar di seluruh wiilayah Indonesia. Dalam kaitan city-tourism, kata dia, malah sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak kota yang memberi ruang usaha yang 'sangat lebar' untuk berbagai fasilitas hiburan, mulai dari amusement center, cafe, disko dan pub, panti pijat dan spa. "Meskipun dalam izin yang diberikan sangat tegas melarang menyelenggarakan kegaitan prostitusi, tetapi kenyataan yang ada berbagai fasilitas hiburan itu selalu berasosiasi dengan 'kegiatan remang-remang', yang minimal salah satunya adalah berupa terciptanya atsmosfir perilaku seks bebas ataupun penyimpangan sexual lainnya," katanya. Sedangkan dalam konteks rural-tourism yang tersebar di berbagai pelosok negeri, di tepi hutan dan pedesaan pun, akan sangat mudah diamati adanya "penyakit sosial" yang berkaitan dengan sex bebas antara pemuda lokal dengan para turis mancanegara. "Lebih ekstrim, di salah satu tujuan wisata di daerah yang menerapkan aturan keagamaan yang sangat ketat pun saat ini akan mudah diamati bahwa wilayah tersebut telah menjadi salah satu surga baru bagi para kaum homo seksual," katanya. Kondisi tersebut, kata dia, sama bahayanya dengan semakin marak dan berkembangnya perilaku lesbian di antara wanita remaja dan dewasa saat ini di berbagai kota besar dan berbagai tujuan wisata. Meskipun modus operandi yang umum terjadi pada berbagai tourism focal point tersebut tidaklah an sich seperti modus operandi gigolo, tapi perilaku seksual di berbagai tujuan wisata perlu menjadi perhatian bersama untuk segera dibenahi, demikian Ricky Avenzora. [initial] (ant/rit)
No comments:
Post a Comment